Sejatinya manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan interaksi dan rasa saling memiliki. Komunitas menjadi tempat berkumpulnya individu dengan nilai, minat dan tujuan pada frekuensi yang sama, seperti saat traveling atau berburu kuliner tertentu.
Terbentuknya komunitas wisata jalan dan kulineran merupakan hasil dari konvergensi antara keinginan anggotanya untuk mendapatkan pengalaman hidup yang lebih kaya dan kebutuhan mendasar untuk terhubung dengan orang lain yang memiliki minat serupa. Terjadinya fenomena ini tak lepas dari meluasnya media sosial, melalui food vlogger, yang mewartakan tempat-tempat kuliner, meski dalam kenyataan tidak semua akurat sesuai yang direkomendasikan.
Informasi yang begitu banyak dalam genggaman tangan setiap orang, bertemu dengan rasa ingin tahu manusia secara naluriah, dan adanya keinginan mendapatkan pengalaman. ‘Membeli’ pengalaman yang menyenangkan ini, adalah salah satu sebab terjadinya pergerakan yang kita sebut wisata.
Potensi pasar komunitas jalan dan kulinean ini nampaknya semakin meluas. Selain seperti di atas (ingin tahu, pengalaman), juga didorong oleh budaya lokal seperti persahabatan, pertemanan, persaudaraan, menjamu, media komunikasi, dan lain-lain. Peristiwa seperti ini terjadi meluas diberbagai kelompok dan strata yang pada gilirannya akan mengeksplorasi budaya/kuliner, mendorong ekonomi lokal, memperkaya pengalaman wisata yang otentik, serta menawarkan manfaat kesehatan dan pengembangan diri.
Komunitas wisata jalan dan kulineran bukan hanya kelompok yang “semi formal” punya nama kelompok, kelompok kecil, kebanyakan ‘emak-emak’, tetapi mereka itu ya komunitas wisatawan, kelompok recresionist. Konsep wisata komunitas ini adalah komunitas ramah semua usia yang kegiatannya jalan-jalan dengan tempo santai, sambil makan. Jenis aktivitas komunitasnya adalah walking tour kota dan kuliner lokal, street food, jajanan pasar atau warung legendaris.
Istilah populer di Jawa Barat, singkatan dari “Ulin bareng Kuliner” atau “Ulin bari Kuliner,” yang berarti jalan-jalan sambil kulineran atau berburu makanan enak dan tempat hang-out. Aktivitasnya merujuk pada kegiatan mencari, mencoba, dan menikmati wisata gastronomi. Makanan khas daerah di berbagai tempat menjadi bagian penting pengalaman wisata.
Fenomena terbentuknya komunitas jalan-jalan dan kulineran dilatarbelakangi oleh pergeseran cara pandang masyarakat terhadap perjalanan dan kuliner, didorong oleh faktor kebutuhan sosial, perkembangan teknologi digital, dan perubahan gaya hidup urban. Masyarakat modern, terutama mereka yang tinggal di perkotaan dengan tingkat tekanan kerja dan kepadatan aktivitas yang tinggi, memandang liburan bukan lagi sekadar kemewahan, melainkan kebutuhan penting untuk melepas penat atau “refreshing“. Mencari pengalaman baru, baik melalui perjalanan ke alam atau menjelajahi tempat baru, menjadi cara efektif untuk menyegarkan pikiran.
Di sisi lain, kuliner telah berkembang dari sekadar kebutuhan biologis menjadi bagian penting dari gaya hidup dan identitas budaya. Bagi banyak komunitas wisata jalan dan kulineran, mencicipi makanan lokal bahkan menjadi motivasi terbesar atau faktor utama dalam menentukan destinasi perjalanan wisata. Keanekaragaman kuliner yang kaya akan rempah-rempah dan cita rasa unik menjadikannya daya tarik tersendiri.
Dengan demikian komunitas jalan dan kulineran adalah aset berharga yang mendukung pariwisata berkelanjutan, mempromosikan gaya hidup sehat, dan memperkaya budaya, menjadikannya kekuatan pendorong penting dalam industri pariwisata dan ekonomi lokal.
Kecenderungan komunitas jalan-jalan dan makan di masa depan akan lebih mengarah pada pengalaman autentik, personalisasi, keberlanjutan (sustainability), digitalisasi, dan perpaduan aktivitas budaya. Mereka mencari tempat yang menawarkan cerita lokal, makanan unik, serta koneksi sosial yang kuat, didorong oleh tren masyarakat yang peduli lingkungan dan kesehatan, serta memanfaatkan teknologi untuk eksplorasi dan berbagi momen. Komunitas ini mengutamakan pencarian kesejahteraan (well-being) yang mengkombinasikan makanan, aktivitas fisik (jalan kaki/ hiking), dan tempat-tempat yang menenangkan.
Strategi penggiat wisata untuk meraih pasar komunitas jalan dan kulineran harus berfokus pada otentisitas, kolaborasi, digitalisasi, dan pengalaman unik, dengan cara membuat konten menarik di media sosial, menggandeng komunitas lokal dan UMKM kuliner, membangun brand unik berdasarkan kearifan lokal, serta memastikan infrastruktur dan kebersihan mendukung pengalaman nyaman dan berkelanjutan. Penggiat usaha kuliner pun dituntut untuk harus selalu menjaga kualitas (rasa, aroma, tingkat kematangan, warna, porsi, pelayanan) dan hygiene sebagai pertanggungjawaban bahwa makanan/ minuman laik dimakan.
Di sisi lain, pemerintah harus cerdas. Kan ‘supplies creates its own demand‘? Jadi harus mendorong atau menginisiasi siapapun untuk berkreasi, bahkan mengadakan lomba-lomba kreasi yang dengannya membuat kuliner takkan kehilangan pasar, bahkan bisa viral di tingkat dunia.
Ancangan dasar strategi yang ditujukan bagi bentukan profil pasar komunitas wisata jalan dan kulineran di atas adalah pemahaman komprehensif bahwa komunitas wisata jalan dan kulineran akan mencari lebih dari sekadar makanan enak atau tempat menarik; mereka mencari cerita, mencari makna, mendapatkan dukungan emosional yang bisa memperkaya hidup mereka melalui pengalaman jalan-jalan dan kulineran yang lebih sadar dan bermakna.





