Yudhi Koesworodjati

Saya seorang Akademisi

Dr. Yudhi Koesworodjati, S.E., MPA.

Saya adalah seorang Dosen Tetap FEB Unpas dan pemerhati kepariwisataan. Sebagai akademisi saya berperan aktif sharing wawasan dan pengalaman dengan memberikan shortcourse learning program bagi banyak perusahaan BUMN dan Swasta dan aktif menulis tulisan lepas di media cetak terkait kepariwisataan dan kewirausahaan. Selain terus meingkatkan kinerja PT. Optima Pratama Konsultan yang saya miliki, saat ini saya dipercaya untuk memimpin Pusat Pengelola Kelas Internasional FEB Unpas.

  • Cihanjuang - Cimahi, Jawa Barat.
  • +62 812-2137-498
  • idoeyoptima@gmail.com
  • www.idoeykoesworodjati.blogspot.com
Me

Spesialisasi Saya

Spesialisasi saya di bidang Manajemen Pemasaran dan Manajemen Stratejik.

Pemasaran Stratejik 90%
Pemasaran Internasional 90%
Pemasaran Ritel 90%
Perencanaan Stratejik 90%
  • BASIS KETAHANAN PARIWISATA



    Pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan selama enam dekade telah menyebabkan keyakinan luas akan ketahanan inheren ekonomi pariwisata. Namun, guncangan global berturut-turut telah menunjukkan pentingnya membangun ketahanan sistemik di seluruh ekosistem pariwisata.

    Ketahanan mengacu pada kapasitas untuk menyerap gangguan, pulih dari gangguan, dan beradaptasi dengan kondisi yang berubah sambil mempertahankan fungsi yang pada dasarnya sama seperti sebelum guncangan. Ini melampaui manajemen risiko dan menyangkut kinerja sistem ekonomi setelah ancaman terwujud (Hynes et al.). Ini dicirikan oleh kecepatan dan kekuatan pemulihan, khususnya melalui adaptasi dan transformasi.

    Ketahanan pariwisata bukan hanya soal fisik dan ekonomi, tetapi juga soal bagaimana destinasi dipersepsikan oleh wisatawan. Pariwisata bukan hanya soal destinasi, tetapi juga tentang rasa nyaman, aman, dan pengalaman emosional. Dalam sektor pariwisata, ketahanan ini menjadi fondasi penting karena industri pariwisata sangat dipengaruhi oleh persepsi, rasa aman, dan kepercayaan.

    Persepsi wisatawan adalah cara wisatawan menilai, merasakan, dan memaknai suatu destinasi, baik dari segi keamanan, kenyamanan, kualitas layanan, harga, kebersihan, hingga citra budaya. Dalam konteks ketahanan pariwisata, persepsi menjadi faktor kunci karena keputusan berkunjung sangat dipengaruhi oleh apa yang diyakini wisatawan, bukan hanya oleh kondisi objektif destinasi.

    Persepsi wisatawan merupakan fondasi psikologis dan strategis dalam ketahanan pariwisata. Destinasi yang mampu menjaga citra positif, mengelola komunikasi krisis, serta memberikan pengalaman berkualitas akan lebih tangguh menghadapi guncangan.

    Setiap anggal 17 Februari, dunia merayakan Hari Ketahanan Pariwisata Global, yang ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun jujur diakui kondisi faktual menunjukkan ketahanan adalah topik yang kurang dikembangkan dalam pariwisata. Pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan selama enam dekade telah menyebabkan keyakinan luas akan ketahanan inheren ekonomi pariwisata. Isu prioritas untuk memperkuat pertumbuhan destinasi pariwisata yang stabil selama beberapa dekade telah menyebabkan keyakinan luas akan ketahanan pariwisata yang melekat.

    Tindakan ketahanan saat ini dalam pariwisata umumnya selaras dengan konsep manajemen krisis dan keberlanjutan, dan pengukurannya berfokus pada pemulihan. Secara individual, komponen-komponen ini membantu membangun ketahanan dalam ekosistem pariwisata – dan memungkinkan sektor ini untuk beradaptasi dan merespons dalam menghadapi krisis – yang didukung fokus sistemik yang berwawasan ke depan yang dibutuhkan untuk mendorong ketahanan.

    Ada banyak faktor yang membuat destinasi bertahan bahkan unggul dalam jangka panjang. Tapi dapat kita bagi menjadi dua bagian besar yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal ada beberapa misalnya banyaknya waktu luang di pasar pariwisata, kekuatan ekonomi, infrastruktur perhubungan, keamanan internalnya dan keamanan wilayah, informasi yang akurat tentang destinasi. Sederhananya, dari sisi pasar, mereka tak akan wisata ke destinasi kalau tidak ada informasi bahwa suatu destinasi menarik perhatiannya, tak punya waktu, tak punya uang, dan tidak aman.

    Sementara faktor internal di destinasi setidaknya beberapa faktor utama yang ditentukan oleh ketahanan ekonomi, ketahanan sosial dan budaya, ketahanan lingkungan, ketahanan infrastruktur dan teknologi dan kebijakan dan tata kelola. Belum lagi keamanan, kekhasan yang menjadi pembeda, juga fasilitas infrastruktur, dan segala hal yang telah ditulis, yang memposisikan destinasi menarik untuk dikunjungi bahkan berulang dikunjungi.

    Faktor internal ini berkaitan erat dengan ketahanan psikologis yang merupakan fondasi tak kasat mata dalam ketahanan pariwisata. Infrastruktur bisa dibangun kembali, ekonomi bisa dipulihkan, tetapi tanpa kepercayaan dan stabilitas mental masyarakat serta wisatawan, pariwisata sulit bangkit sepenuhnya.

    Banyak faktor yang bisa dielaborasi misalnya mengapa wisatawan tidak ingin berkunjung lagi ke sebuah negara tertentu dan mungkin masih banyak destinasi lain. Mereka punya diferensiasi? Ya, mereka punya. Tapi ada penghambat dari masalah kecil seperti transportasi, sikap masyarakat, keamanan, dan lain-lain.

    Basis ketahanan pariwisata merujuk pada fondasi atau landasan yang membuat sektor pariwisata mampu bertahan, pulih dan beradaptasi terhadap berbagai tantangan atau krisis. Ketahanan pariwisata mencakup kemampuan untuk mengantisipasi, mempersiapkan, dan menanggapi gangguan secara efektif. Kemampuan ini sangat penting untuk memastikan kelangsungan dan keberlanjutan jangka panjang destinasi pariwisata dan usaha kecil dan menengah (UKM) terkait.

    Untuk meningkatkan ketahanan, destinasi perlu mengubah praktik manajemen, meningkatkan infrastruktur, melibatkan masyarakat, dan mempromosikan penggunaan sumber daya yang berkelanjutan. Tindakan-tindakan ini membantu destinasi untuk bertahan dan pulih dari tantangan, memastikan destinasi tetap menarik dan berfungsi bagi pengunjung dan penduduk.

    Menyeimbangkan kembali pariwisata, menemukan cara untuk mendistribusikan arus pengunjung dalam waktu dan ruang, dan menghindari ketergantungan berlebihan pada sektor ini merupakan prioritas utama saat destinasi memikirkan kembali kesuksesan pariwisata, dengan fokus yang lebih besar pada tujuan lingkungan dan kesejahteraan. Destinasi pariwisata dengan basis ketahanan yang kuat siap untuk berkembang dimasa perubahan dan berkontribusi pada sektor pariwisata yang tangguh. Hal ini dapat meningkatkan stabilitas ekonomi lokal, meningkatkan kualitas hidup di suatu tempat, dan menciptakan peluang untuk pembangunan sosial-ekonomi bagi masyarakat.

  • DAYA PIKAT DAN IKAT PARIWISATA

    Keberhasilan pengembangan pariwisata tidak hanya bergantung pada kemampuan penggiat wisata destinasi wisata dalam menarik wisatawan (daya pikat), tetapi juga pada kemampuannya mempertahankan dan men
    ciptakan loyalitas wisatawan (daya ikat). Strategi daya pikat pariwisata adalah langkah-langkah terencana penggiat wisata untuk meningkatkan nilai jual sebagai magnet utama sebuah destinasi agar mampu menarik perhatian dan minat berkunjung wisatawan secara konsisten.

    Daya pikat itu, daya tarik yang muatan pembedanya tinggi, malah mungkin hanya satu-satunya, yang ekstrim misal badak bercula satu di ujungkulon, atau tapir di Sulawesi, orangutan di Kalimantan, komodo di Nusa Tenggara Timur, dan lain-lain. Bisa juga mirip tapi memiliki beberapa pembeda keunggulan, misal Kebun Binatang Bandung dengan Taman Safari Cisarua.

    Sedangkan daya ikat tercipta melalui keramahtamahan (hospitality) yang luar biasa, rasa aman dan nyaman selama berkunjung dan kualitas pelayanan yang melebihi ekspektasi. Dalam manajemen destinasi, daya ikat (stickiness) berkaitan erat dengan kepuasan (satisfaction) dan loyalitas (loyalty). Strategi ini bertujuan untuk memastikan wisatawan merasa nyaman, tinggal lebih lama (longer stay), menghabiskan uang lebih banyak (higher spending) dan memiliki keinginan kuat untuk kembali (repeat visit).

    Wisatawan yang mencari daya ikat adalah mereka yang menginginkan kualitas pengalaman dan kenyamanan jangka panjang. Bagi calon wisatawan, mengetahui bahwa sebuah destinasi memiliki daya ikat yang kuat adalah faktor krusial dalam proses pengambilan keputusan. Daya ikat adalah tanda kredibilitas. Daya pikat membuat mereka melirik, tetapi informasi tentang daya ikat (melalui reputasi dan ulasan) adalah hal yang membuat mereka akhirnya memesan tiket (booking).

    Daya ikat itu penentunya sangat luas, malah bisa diluar daya pikat, sulit dikontrol namun dapat dikendalikan dengan suatu pemahaman bersama di destinasi. Yaitu dengan memasyarakatkan pariwisata bersamaan dengan mempariwisatakan masyarakat. Trend kekinian yang membuat repetitor kembali datang ke destinasi ternyata bukan hanya daya pikat berupa daya tarik wisatanya saja, namun juga karena faktor ‘perlakuan’ masyarakat di destinasi terhadap wisatawan wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.

    Ingat peristiwa sepinya Bali saat waktu libur kemarin, diduga karena adanya diskriminasi perlakuan ‘masyarakat pariwisatanya’ terhadap wisatawan nusantara. Akibatnya, bisa dilihat di YouTube gimana sepinya Bali.

    Tidak bisa dipungkiri, diskriminasi pun masih terjadi dalam tarif. Sekarang kan ada tarif berbeda? Ada tarif masuk lokal misal 25.000, wisatawan mancanegara 125.000. Lho, koq tidak diatur oleh pemerintah ya? Sementara kalau kita naik Tower Zamzam, atau menara Eiffel tingkat 2, diperlakukan sama dengan orang lokal, bayar sama. Nah, wajar kalau ada pihak yang merasa ‘diperas’, dan bila itu viral di media sosial, hancur sudah. Ini terjadi di beberapa negara tetangga kita. Kita harus sadari, masih banyak ‘moment of truth’ yang harus dibenahi agar daya ikat menguat.

    Pariwisata itu bersifat ‘human’, orang ketemu orang, melayani orang, bicara dengan orang, yang mempunyai rasa dan hati. Yang membuat daya ikat Indonesia secara umum kuat, adalah ‘human touch’.

    Kita bisa buka kanal YouTube dimana seorang wisatawan mancanegara yang menjelajahi Indonesia dari Batam sampai Papua. Dia menuturkan bahwa Bandung the best, istimewa. Masyarakatnya friendly, senyum, hangat, ramah membantu/ menolong/ memberi dalam kesederhanaannya. Bisa juga lihat kesan umum wisatawan mancanegara di YouTube, kenapa sampai menangis tidak mau pulang. Banyak yang harus pulang karena masalah visa, kumpul uang lagi, dan kembali ke Indonesia. Itulah pentingnya mempariwisatakan masyarakat sebelum memasyarakatkan pariwisata, atau dijalankan simultan.

    Jika diamati, uang rupiah yang beredar akan banyak menyentuh masyarakat dan usaha kecil, sementara valuta asing akan beredar di strata masyarakat yang lebih tinggi, malah mungkin kembali ke negeri asalnya. Oleh karena itu keamanan (fisik dan psikologis) dan kenyamanan wisatawan menjadi penting. Ya, pada akhirnya kembali ke Sapta Pesona yang dijalankan oleh seluruh lapisan masyarakat di destinasi.

    Maka penting kiranya untuk memelihara citra, yang merupakan produk kolektif seluruh masyarakat di destinasi, diseluruh lini, sektor dan strata masyarakat, serta kebijakan dari pemerintah yang cerdas dalam memahami seluruh fenomena kepariwisataan kekinian dan yang akan datang.

    Hanya perlu ‘beberes’ dari segi kebijakan pemerintah (misalnya dengan jelas menyatakan bahwa pariwisata menjadi sektor utama penggerak kesejahteraan masyarakat atau lebih jelas lagi dinyatakan dalam visi-misi kota). Selanjutnya diiringi dengan program dan kegiatan yang signifikan, misal penataan kota, kebersihan kota, pemeliharaan jalan – marka – petunjuk jalan – penerangan jalan, keamanan, penanganan sampah, informasi digital yang presisi, hotline untuk wisatawan, bimbingan dan penyuluhan masyarakat, pengembangan masyarakat sadar wisata, penanganan limbah-limbah, penyelenggaraan event-event, dan lainnya.

    Dengan meningkatkan daya pikat dan daya ikat akan menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu sektor yang dapat menjadi lokomotif penghela berjalannya roda ekonomi, bangkitnya semangat dan harapan masyarakat untuk lebih sejahtera, tanpa harus menanam investasi besar.

  • KOMUNITAS WISATA JALAN DAN KULINERAN


    Sejatinya manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan interaksi dan rasa saling memiliki. Komunitas menjadi tempat berkumpulnya individu dengan nilai, minat dan tujuan pada frekuensi yang sama, seperti saat traveling atau berburu kuliner tertentu.

    Terbentuknya komunitas wisata jalan dan kulineran merupakan hasil dari konvergensi antara keinginan anggotanya untuk mendapatkan pengalaman hidup yang lebih kaya dan kebutuhan mendasar untuk terhubung dengan orang lain yang memiliki minat serupa. Terjadinya fenomena ini tak lepas dari meluasnya media sosial, melalui food vlogger, yang mewartakan tempat-tempat kuliner, meski dalam kenyataan tidak semua akurat sesuai yang direkomendasikan.

    Informasi yang begitu banyak dalam genggaman tangan setiap orang, bertemu dengan rasa ingin tahu manusia secara naluriah, dan adanya keinginan mendapatkan pengalaman. ‘Membeli’ pengalaman yang menyenangkan ini, adalah salah satu sebab terjadinya pergerakan yang kita sebut wisata.

    Potensi pasar komunitas jalan dan kulinean ini nampaknya semakin meluas. Selain seperti di atas (ingin tahu, pengalaman), juga didorong oleh budaya lokal seperti persahabatan, pertemanan, persaudaraan, menjamu, media komunikasi, dan lain-lain. Peristiwa seperti ini terjadi meluas diberbagai kelompok dan strata yang pada gilirannya akan mengeksplorasi budaya/kuliner, mendorong ekonomi lokal, memperkaya pengalaman wisata yang otentik, serta menawarkan manfaat kesehatan dan pengembangan diri.

    Komunitas wisata jalan dan kulineran bukan hanya kelompok yang “semi formal” punya nama kelompok, kelompok kecil, kebanyakan ‘emak-emak’, tetapi mereka itu ya komunitas wisatawan, kelompok recresionist. Konsep wisata komunitas ini adalah komunitas ramah semua usia yang kegiatannya jalan-jalan dengan tempo santai, sambil makan. Jenis aktivitas komunitasnya adalah walking tour kota dan kuliner lokal, street food, jajanan pasar atau warung legendaris.

    Istilah populer di Jawa Barat, singkatan dari “Ulin bareng Kuliner” atau “Ulin bari Kuliner,” yang berarti jalan-jalan sambil kulineran atau berburu makanan enak dan tempat hang-out. Aktivitasnya merujuk pada kegiatan mencari, mencoba, dan menikmati wisata gastronomi. Makanan khas daerah di berbagai tempat menjadi bagian penting pengalaman wisata.

    Fenomena terbentuknya komunitas jalan-jalan dan kulineran dilatarbelakangi oleh pergeseran cara pandang masyarakat terhadap perjalanan dan kuliner, didorong oleh faktor kebutuhan sosial, perkembangan teknologi digital, dan perubahan gaya hidup urban. Masyarakat modern, terutama mereka yang tinggal di perkotaan dengan tingkat tekanan kerja dan kepadatan aktivitas yang tinggi, memandang liburan bukan lagi sekadar kemewahan, melainkan kebutuhan penting untuk melepas penat atau “refreshing“. Mencari pengalaman baru, baik melalui perjalanan ke alam atau menjelajahi tempat baru, menjadi cara efektif untuk menyegarkan pikiran.

    Di sisi lain, kuliner telah berkembang dari sekadar kebutuhan biologis menjadi bagian penting dari gaya hidup dan identitas budaya. Bagi banyak komunitas wisata jalan dan kulineran, mencicipi makanan lokal bahkan menjadi motivasi terbesar atau faktor utama dalam menentukan destinasi perjalanan wisata. Keanekaragaman kuliner yang kaya akan rempah-rempah dan cita rasa unik menjadikannya daya tarik tersendiri.

    Dengan demikian komunitas jalan dan kulineran adalah aset berharga yang mendukung pariwisata berkelanjutan, mempromosikan gaya hidup sehat, dan memperkaya budaya, menjadikannya kekuatan pendorong penting dalam industri pariwisata dan ekonomi lokal.

    Kecenderungan komunitas jalan-jalan dan makan di masa depan akan lebih mengarah pada pengalaman autentik, personalisasi, keberlanjutan (sustainability), digitalisasi, dan perpaduan aktivitas budaya. Mereka mencari tempat yang menawarkan cerita lokal, makanan unik, serta koneksi sosial yang kuat, didorong oleh tren masyarakat yang peduli lingkungan dan kesehatan, serta memanfaatkan teknologi untuk eksplorasi dan berbagi momen. Komunitas ini mengutamakan pencarian kesejahteraan (well-being) yang mengkombinasikan makanan, aktivitas fisik (jalan kaki/ hiking), dan tempat-tempat yang menenangkan.

    Strategi penggiat wisata untuk meraih pasar komunitas jalan dan kulineran harus berfokus pada otentisitas, kolaborasi, digitalisasi, dan pengalaman unik, dengan cara membuat konten menarik di media sosial, menggandeng komunitas lokal dan UMKM kuliner, membangun brand unik berdasarkan kearifan lokal, serta memastikan infrastruktur dan kebersihan mendukung pengalaman nyaman dan berkelanjutan. Penggiat usaha kuliner pun dituntut untuk harus selalu menjaga kualitas (rasa, aroma, tingkat kematangan, warna, porsi, pelayanan) dan hygiene sebagai pertanggungjawaban bahwa makanan/ minuman laik dimakan.

    Di sisi lain, pemerintah harus cerdas. Kan ‘supplies creates its own demand‘?  Jadi harus mendorong atau menginisiasi siapapun untuk berkreasi, bahkan mengadakan lomba-lomba kreasi yang dengannya membuat kuliner takkan kehilangan pasar, bahkan bisa viral di tingkat dunia.

    Ancangan dasar strategi yang ditujukan bagi bentukan profil pasar komunitas wisata jalan dan kulineran di atas adalah pemahaman komprehensif bahwa komunitas wisata jalan dan kulineran akan mencari lebih dari sekadar makanan enak atau tempat menarik; mereka mencari cerita, mencari makna, mendapatkan dukungan emosional yang bisa memperkaya hidup mereka melalui pengalaman jalan-jalan dan kulineran yang lebih sadar dan bermakna.

  • SINKRONISASI NILAI DAN KEPUASAN WISATAWAN



    Wisatawan adalah the best number one. Pernyataan tersebut bisa diartikan hidup matinya sebuah usaha pariwisata tergantung pada wisatawan. Pemasaran merupakan hasil dari seluruh kegiatan untuk menjaga agar penggiat usaha pariwisata selalu memperhatikan wisatawannya, dan dengan memastikan bahwa produk atau jasa wisata yang ditawarkan perusahaan dihargai oleh para wisatawannya.

    Pemasaran dapat dipandang sebagai identifikasi, penciptaan, pengkomunikasian, penyampaian dan pemantauan nilai pelanggan. Para wisatawan dalam melakukan pembelian akan memperhitungkan tawaran yang akan memberikan nilai tertinggi. Konsep yang membantu wisatawan memilih produk untuk memenuhi kebutuhannya adalah nilai (selain kualitas, pelayanan dan aksesibilitas untuk menciptakan kepuasan).

    Nilai sebagai sesuatu yang memberikan keuntungan/ kenikmatan bagi wisatawan karena menerima pelayanan yang baik, harga yang memuaskan, citra yang kuat, penyampaian tepat waktu dan sebagainya. Mereka menginginkan nilai dengan dibatasi oleh biaya pencarian serta pengetahuan, mobilitas, dan penghasilan yang terbatas, mereka membentuk suatu harapan akan nilai dan sesuai dengan hal tersebut.

    Ukuran nilai wisatawan adalah kepuasan. Kiranya jangan pernah penggiat pariwisata bicara nilai wisatawan jika tidak memahami harapan wisatawannya. Produk atau jasa penggiat wisata yang tidak bernilai maka akan ditinggalkan, diinjak-injak, dibuang, disingkirkan, tidak laku, bangkrut.

    Nilai dapat dilihat terutama sebagai kombinasi mutu, jasa dan harga (QSP: Quality, Service, Price), yang disebut tiga serangkai nilai wisatawan. Nilai meningkat jika mutu dan layanannya meningkat serta menurun jika harganya meningkat. Kuncinya adalah untuk menetapkan harapan wisatawan yang realistis, dan tidak hanya memenuhi mereka tetapi untuk melebihi mereka sebaiknya dengan cara yang tak terduga dan bermanfaat.

    Nilai atau value ini adalah hal-hal yang diterima wisatawan ketika membeli produk atau jasa wisata dibandingkan apa yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan produk tersebut. Manfaat yang diterima ini berupa manfaat fungsional dan manfaat emosional.

    Sementara, pengeluaran wisatawan adalah berupa harga produk tersebut dan pengeluaran-pengeluaran lain yang harus dikeluarkan wisatawan. Jadi, produk dikatakan memiliki value yang tinggi artinya manfaat yang diterima lebih besar dibandingkan pengeluaran yang harus dibayar wisatawan. Bisa saja sejumlah produk manfaat fungsionalnya sama atau tidak jauh berbeda, namun karena manfaat emosional yang dirasakan wisatawan berbeda, maka harga sebuah produk atau jasa wisata bisa jauh lebih mahal ketimbang yang lain.

    Karena itu seorang wisatawan akan mempertimbangkan nilai dan harga produk sebelum menetapkan pembelian. Seseorang akan memilih produk yang menghasilkan lebih banyak nilai per-dolar/rupiah. Nilai adalah pemenuhan kebutuhan wisatawan dengan biaya perolehan, pemilikan dan penggunaan yang terendah.

    Bagi penggiat wisata di titik inilah kita harus memiliki diferensiasi, pembeda dengan penggiat wisata lain, dalam hal apa? Yaitu dalam hal manajemen fisik dan non fisik, atau tangible dan intangible. Fasilitas fisik dapat dengan mudah kita kelola karena terlihat dan terasa, namun pelayanan/ service tidak terlihat, tetapi nyata dan terasa, bahkan menjadi ‘moment of truth’ yang bila sedikit saja salah atau tidak tepat, akan menghancurkan citra secara keseluruhan meski fasilitas fisiknya termasuk hebat. Dan celakanya dapat meruntuhkan citra destinasi secara keseluruhan.

    Bila hanya berorientasi kepada kepuasan wisatawan, mungkin itu hanya standar dan biasa-biasa saja, tidak ada kesan khusus bagi wisatawan. Contoh wisatawan ingin pemenuhan needs, wants dan expectancy nya akan sesuatu (needs), menginginkan produk/ jasa yang terbaik (wants), affordable luxury, harganya rasional, disajikan cepat. Maka sesuai expectancy dan puas. Itu yang tadi penulis sebut biasa-biasa saja karena penggiat wisata lain juga bisa melakukan hal yang sama. Permasalahan kita adalah bagaimana pelayanan fisik dan nonfisik kita bisa diatas puas (satisfaction), naik setingkat lagi menjadi delightful/ senang (highly customer satisfaction), bahagia, sehingga produk dan pelayanan kita dicari dan menjadi pilihan prioritas dari wisatawan.

    Filosofi yang mendasari mengapa harus kepuasan? Hal ini didasari pada pemahaman jika wisatawan puas kita harus yakin bahwa akan terjadi sesuatu yang positif dimasa mendatang, dan sebaliknya penggiat wisata pun harus yakin jika wisatawan tidak puas maka akan terjadi sesuatu yang negatif dimasa yang akan datang.

    Adalah salah satu keunikan dari ciri dalam pelayanan jasa (hospitality services) adalah:

    Bersifat tangible dan intangible dalam waktu yang bersamaan.

    Bersifat individu, yang satu puas, yang lainnya belum tentu, orang melayani orang yang masing-masing memiliki keunikan pribadi masing-masing.

    Apa yang diperbuat/ dibicarakan antara staf dan pelanggan adalah diluar pengendalian manajemen dan bahkan bisa bersifat pribadi.

    Jadi, kunci keberhasilan usaha pariwisata itu adalah sumber daya manusia. Oleh karenanya kita harus memiliki standard operating procedure yang baik untuk pelayanan, dilatih, dilatih, dilatih, diulang, diulang, diulang, sehingga SDM kita kuat dalam pelayanan tangible dan intangible sekaligus. Usaha pariwisata biasa disebut ‘a very detail business and total concept’. SDM kita harus benar-benar terlatih dalam pelayanan fisik, penampilan fisik, body language, body odor speak-up dan mungkin dibeberapa usaha SDM dapat berbahasa asing, tentu banyak strategi checklist untuk menjawab rangkaian Sapta Pesona (terutama point ramah dan kenangan).

  • SIMBIOSIS PARIWISATA DAN LINGKUNGAN


    Dalam era yang semakin peduli terhadap lingkungan, penggiat wisata dituntut untuk tidak hanya berfokus pada keuntungan, tetapi juga memperhatikan dampak bisnis mereka terhadap alam.

    Wisatawan modern semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan dan cenderung memilih produk wisata yang memiliki komitmen terhadap kelestarian lingkungan.

    Lingkungan di destinasi, yang mungkin hanya dikira menjadi daya tarik sekunder, atau malah hanya sebagai daya tarik pendukung yang dianggap kecil, ternyata bisa ‘membunuh’.. tourism destroy tourism.

    Lingkungan dapat mematikan perkembangan dan pertumbuhan pariwisatanya. Ada yang lingkungannya kotor, ada yang mengolah makanannya jorok, ada yang tidak ramah dan lain-lain, yang menghambat kunjungan wisatawan, boro-boro mau kembali satu kali saja kapok. Apalagi di era informasi digital, mudah sekali mendapat info yang baik atau yang buruk.

    Kesadaran wisatawan terhadap dampak ekologis semakin meningkat, mendorong penggiat wisata untuk menerapkan strategi yang lebih ramah lingkungan.

    Pariwisata yang baik adalah pariwisata yang mengedepankan aspek keberlanjutan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat (community quality of life).

    Alternatif yang diperlukan untuk menyelaraskan pembangunan ekonomi (pariwisata) dengan lingkungan adalah konsep berkelanjutan (sustainable development). Brundtland mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan untuk memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan pemenuhan kebutuhan generasi mendatang.

    Secara garis besar, indikator yang dapat dijabarkan dari karakteristik berkelanjutan antara lain adalah lingkungan. Artinya industri pariwisata harus peka terhadap kerusakan lingkungan, misalnya pencemaran limbah, sampah yang bertumpuk, dan kerusakan pemandangan yang diakibatkan pembalakan hutan, gedung yang letak dan arsitekturnya tidak sesuai, serta sikap penduduk yang tidak ramah.

    Dengan kata lain aspek lingkungan lebih menekankan pada kelestarian ekosistem dan biodiversiti, pengelolaan limbah, penggunaan lahan, konservasi sumber daya air, proteksi atmosfer, dan minimalisasi kebisingan dan gangguan visual.

    Lembaran data menunjukkan bahwa sesungguhnya masalah lingkungan hidup lebih banyak dipengaruhi oleh perjalanan manusia, lewat pariwisata, yang kemungkinan besar akan menambah pencemaran lingkungan hidup. Apalagi pariwisata sebagai industri sedang digalakkan itu berarti berbagai proyek fisik akan dibangun.

    Penelitian yang dilakukan oleh Lenzen et al. yang dimuat dalam jurnal Nature Climate Change memperkirakan sektor pariwisata menyumbang sekitar 8% dari total emisi karbon global.

    Kita pun sering kali melihat sebuah objek wisata yang lingkungan disekitarnya semakin memburuk namun tetap saja ramai dikunjungi ribuan pengunjung. Bagi pengelola kepariwisataan hanya ada dua atternatif yang harus dipilih mana yang lebih penting kepuasan pengunjung atau terganggunya atau rusaknya lingkungan.

    Menurut pendapat beberapa pakar pariwisata alternatif pemecahannya adalah dengan jalan mendidik masyarakat merupakan jalan terbaik guna menanggulangi kerusakan lingkungan di daerah wisata.

    Di sini kepariwisataan terkait hubung dan bersimbiosis dengan lingkungan hidup dan konservasi budaya. Di satu sisi hubungan simbiosis dapat bersifat negatif seperti perusakan, pencemaran lingkungan, polusi budaya, komersialisasi, komodifikasi seni budaya, pendangkalan kreasi serta mutu seni.

    Di sisi lain kepariwisataan yang direncanakan secara matang justru akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

    Pariwisata berkelanjutan menurut UNWTO adalah pariwisata yang memperhitungkan dampak ekonomi, sosial dan lingkungan saat ini dan masa depan, memenuhi kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan dan masyarakat setempat dan dapat diaplikasikan ke semua bentuk aktivitas pariwisata di semua jenis destinasi wisata, termasuk wisata masal dan berbagai jenis kegiatan wisata lainnya.

    Terdapat empat pilar kriteria destinasi pariwisata berkelanjutan, yaitu: pengelolaan berkelanjutan, keberlanjutan budaya, keberlanjutan sosial-ekonomi dan keberlanjutan lingkungan, yang secara holistik harus diterapkan.

    Selain lingkungan, sosial budaya pun menjadi aspek yang penting diperhatikan. Rusaknya lingkungan alam mengakibatkan rusaknya lingkungan budaya dan lain-lain. Interaksi dan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi menyebabkan persentuhan antar budaya yang juga semakin intensif.

    Pariwisata merupakan salah satu kegiatan yang memberi kontribusi persentuhan budaya dan antar etnik serta antarbangsa. Oleh karenanya penekanan dalam sosial budaya lebih kepada ketahanan budaya, integrasi sosial, kepuasan penduduk lokal, keamanan dan keselamatan, kesehatan publik.

    Dengan demikian prinsip dasar pariwisata berkelanjutan adalah semakin kita melestarikan maka kita akan semakin mensejahterakan (to preserve to proper). Kiranya lebih baik margin kecil tetapi lingkungan sustained daripada margin besar tapi lingkungan kita rusak semua bahkan terjadi perubahan budaya masyarakat setempat. Inilah salah satu alasan banyak destinasi wisata di dunia yang seakan “menutup diri” dari kedatangan turis yang berlebihan hingga irresponsible tourist.

    Pengembangan pariwisata berkelanjutan menghendaki partisipasi semua pihak yang berperan di dalamnya dan juga kepemimpinan politik yang keras dari pemerintah untuk memastikan cakupannya dalan skala yang lebih luas dan diperlukan guna pembentukan konsensus.

    Untuk mencapainya tentu saja diperlukan usaha yang terus menerus, namun pada akhirnya akan membawa manfaat yang baik terhadap kepuasan tamu/turis/wisatawan dengan menyajikan pengalaman yang berarti. Di samping itu meningkatkan kesadaran mereka tentang sesuatu yang berkelanjutan dan mempromosikan praktek-praktek pariwisata berkelanjutan diantara mereka.

    Tampak banyak pemangku kepentingan yang bicara “berkelanjutan” tapi tidak tahu harus berbuat apa. Dan akhirnya memang jawabannya adalah harus mempariwisatakan masyarakat dengan Sapta Pesona terlebih dahulu, sebelum memasyarakatkan pariwisata, dengan pendekatan manfaat untuk kita bersama.

  • MENANTI KESEJAHTERAAN PARIWISATA


    Ujungnya pengembangan ke


    pariwisataan di suatu destinasi atau daerah tujuan wisata adalah peningkatan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Perencanaan pembangunan daerah memasukan program aksi wisata sebagai salah satu produk unggulan yang bisa dipasarkan secara global. Data dari Kementerian Pariwisata bahwa kuartal pertama 2025, sektor pariwisata telah menyumbang 3,9 persen dari total PDB (produk domestik bruto) Indonesia. Selain itu, nilai devisa pariwisata hingga kuartal pertama tahun 2025 telah mencapai 3,74 miliar USD.

    Membangun ekosistem wisata yang komprehensif membutuhkan pemimpin daerah yang punya visi wisata wilayah regional – internasional. Kepala daerah baik gubernur, walikota atau bupati secara personal dapat menjadi figur dalam gerakan aksi wisata karena mereka memiliki modal sosial dan popularitas massa. Komitmen kepala daerah harus kuat, didasari dengan informasi lengkap, komprehensif, tepat. Kepala daerah harus memiliki banyak info tentang pariwisata sesuai  tugas mereka (sesuai Keppres 05/2005) membuat strategi dan program untuk kesejahteraan warga kotanya melalui potensi daerahnya, agar warganya mudah mendapatkan lapangan kerja dan lapangan berusaha.

    Kepala daerah itu pemimpin wilayah (geografis) dan penduduk (demografi) jadi harus punya visi komprehensif yang inovatif. Memahami apa yang dibutuhkan warganya dari potensi wisata yang dimiliki. Mampu mengintegrasikan kepentingan sektor publik dan sektor bisnis. Selebihnya, secara manajerial serahkan kepada aparatur dan komunitas pariwisata. Masyarakat dibangun 4 kultur belajar. Belajar membuat produk, belajar menjual produk, belajar mengelola uang, dan belajar meningkatkan kompetensi mengelola bisnis wisata.

    Stakeholder kepariwisataan harus selalu mendorong agar kepala daerah tersentuh pikirannya untuk membangun dan mengembangkan wisata wilayah yang dapat menghasilkan social and economic advantage bagi komunitas wisata dan pemenuhan budget pemerintah.

    Oleh karena itu, penting kiranya mengingatkan pimpinan daerah untuk menempatkan orang teknis kepariwisataan yang asli. Oleh karenanya kepala daerah butuh tim ahli yang mumpuni. Menunjuk orang yang  paham kepariwisataan yang hendaknya jangan hanya fasih bicara peraturan daerah, peraturan gubernur, peraturan walikota/ bupati, dan lain-lain. Tapi juga harus mampu mengoptimalisasi pengelolaan potensi wisata yang ada pada tataran teknis sehingga berdampak positif untuk percepatan perekonomian masyarakatnya.

    Kalau sudah begitu kan tidak perlu itu makan bergizi gratis (MBG) yang digelembungkan, semua orang tua mampu menyekolahkan anak dan memberi makanan bergizi sendiri. Tak perlu model bansos dan sejenisnya karena setiap kepala keluarga mampu menghidupi keluarganya dengan layak.

    Sejahteranya masyarakat memerlukan adanya modal, produk dan uang beredar. Semua ini akan mendorong tingkat kesejahteraan warga kota. Nah, yang paling mudah kan jalannya via pariwisata. Kita punya modal in natura berupa daya tarik, kita bisa mengatur produknya dengan bagus, otomatis uang beredar bertambah.

    Kota Bandung khususnya, apa yang kota ini punya sebagai modal? Kekayaan lautan, tambang, lahan pertanian tidak punya, tidak seberuntung daerah lain. Sumber daya utamanya adalah sumber daya manusia (SDM) dan daya tarik buatan (kreatifitas). Bila menyadari hal itu, maka kepala daerah harus memikirkan bagaimana caranya, agar modal ini jadi wahana di ‘produksi’, agar menambah uang beredar yang pada akhirnya menumbuhkan lapangan kerja, lapangan berusaha, dan mendorong kreatifitas masyarakat untuk tetap berkreasi.

    Patut diakui sektor pariwisata belum sepenuhnya menyejahterakan, baik dari sisi pelaku industri (seperti pemandu wisata, pengrajin lokal, pelaku UMKM, dll) maupun dari sisi dampak terhadap masyarakat dan lingkungan. Masih banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada arus kunjungan wisatawan kini hanya bisa berharap, menanti datangnya kesejahteraan yang selama ini dijanjikan oleh industri pariwisata.

    Kepala daerah harus mendorong agar sektor pariwisata menjadi salah satu penggerak perekonomian rakyat berkontribusi signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat. Pemerintah harus berperan jadi fasilitator untuk hal tersebut. Kepala daerah dinantikan untuk merealisasikan lima program unggulan Kemenpar sebagai upaya memperkuat sektor pariwisata Indonesia. Salah satunya adalah mewujudkan pariwisata naik kelas melalui pengembangan gastronomi. Contoh kecil, adakan lomba-lomba reguler misal, cenderarasa berbahan dasar umbi-umbian misalnya, atau apapun, maka akan muncul produk cenderarasa khas yang baru atau terbarukan. Demikian pula dengan cenderamata.

    Kesejahteraan pariwisata hendaknya selalu mengacu pada pendekatan pembangunan pariwisata yang tidak hanya menguntungkan investor dan pelaku industri besar, tetapi juga memberikan manfaat yang merata kepada masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar destinasi wisata. Seluruh pelaku dalam ekosistem pariwisata, terutama masyarakat lokal, memperoleh manfaat sosial, ekonomi, dan budaya dari aktivitas pariwisata. Pemerintah, masyarakat, dan pelaku industri pariwisata harus bersama-sama menciptakan model pariwisata yang manusiawi dan inklusif.

  • ALAMAT

    Cihanjuang - Cimahi, Jawa Barat

    EMAIL

    idoeyoptima@gmail.com

    TELEPON

    (022) 664 6418

    MOBILE

    +62 812-2137-498